Syariah Phobia Efek Gagalnya Edukasi Syariah

Meski relatif baru, perkembangan perbankan syariah di negeri ini sangatlah pesat. Semenjak kemunculan pertama tahun 1992, tahun 2007 sudah berkembang terdapat 565 kantor cabang baru bank syariah, dengan aset lebih dari 29 trilyun rupiah (Sigit Pramono, 2007). Perkembangan itu menunjukkan sentimen positif masyarakat terhadap bukti kemanfaatan layanan bank syariah. Sehingga pasar yang sudah tercipta itu dimanfaatkan dengan baik oleh berbagai kalangan untuk terjun memulai baru di dunia bisnis perbankan syariah. Tentu, ada banyak latar belakang yang mendasari. Di satu sisi ada kalangan yang betul-betul ingin agar syariah sampai pada kemasan luarnya. Sedangkan sisi lain, ada bankir yang lebih mementingkan isi atau esensi ketimbang kemasan.

Kekhawatiran yang akan muncul adalah adanya banyak kalangan yang hanya mengejar kemasan ketimbang esensi. Dengan melihat budaya masyarakat Indonesia yang masih suka dengan simbol dan dukungan edukasi yang rendah, pastilah banyak masyarakat yang lebih cepat untuk memilih mana yang lebih kelihatan syariah dibandingkan dengan yang biasa-biasa saja. Nah, pola yang seperti ini ditakutkan justru akan menumbuhkan sikap syariah phobia. Masyarakat pada akhirnya akan mengalami kekecewaan manakala harapan untuk bertransaksi secara syariah tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu wajar adanya, secara nyata data menunjukkan bahwa sebagian besar (59%) karyawan lembaga syariah lulusan S-1. Hanya 10% berlatar belakang ilmu syariah. Sebagian besar berasal dari lembaga keuangan ekonomi konvensional (Syafi’i Antonio, 2007). Sehingga meski menunjukkan gairah pasar yang bagus, perbankan syariah dalam kompetisi dengan perbankan lain terkadang ‘berani’ untuk potong kompas disebabkan dari skill dan knowledge kurang mendukung.

Bagi kalangan yang menitikberatkan atas isi ketimbang kemasan justru terkadang bisa masuk ke celah-celah pasar di semua golongan. Lihat saja, Inggris, Singapura, dan Malaysia yang serius mengembangkan bank syariah. bahkan ada CEO bank syariah di Inggris yang non-muslim. Sisi kemanfaatannyalah yang lebih menonjol dibandingkan memasarkan di tengah masyarakat hanya dengan iming-iming kemasan.

Untuk menunjukkan performa layanan syariah yang bagus tentulah harus ditunjang dengan dukungan SDM yang expert di perbankan syariah. Sehingga perkembangan lembaga syariah yang pesat juga harus diimbangi dengan pembentukan lembaga-lembaga pencetak profesional di bidang perbankan syariah. Jika tidak, idealita yang dibangun dan sudah mendapat respon bagus dari masyarakat boleh jadi lama kelamaan akan luntur. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia telah membuka konsentrasi di bidang ekonomi syariah baik pada level D-3, S-1, S-2 maupun S-3. Meski masih harus disikapi dengan apresiasi, lembaga-lembaga tersebut harus meningkatkan beberapa aspek, seperti kurikulum, metode pengajaran dan evaluasi, agar lulusan yang dihasilkan sesuai dengan yang diidealkan. Selain di bidang pendidikan formal, jalur pendidikan informal juga harus digalakkan. Terutama dalam mencetak tenaga siap guna. Pola pelatihan, training maupun short course perbankan syariah juga harus massif diselenggarakan.

Kesuksesan edukasi syariah tidak akan terlepas dari bagaimana kalangan perbankan syariah memperbaiki cara menjual produk syariah, infrastrukturnya, hingga memperbaharui produk. Selain itu, lembaga perbankan syariah selaku pelaku harus menjadi learning organization yang terus belajar dan mengembangan pengetahuan keuangan syariah. Dari sinilah nantinya percepatan inovasi produk dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat akan muncul. Selain itu, standarisasi profesioanlitas syariah juga harus dilakukan oleh sebuah lembaga standarisasi independen.

Selama ini, ada sebagian masyarakat yang masih melihat tidak ada beda antara bank konvensional dan syariah.  Hal itu terjadi akibat kualitas layanan yang memang tidak menunjukkan ‘lebih syariah’ dibandingkan dengan bank konvensional.  Harusnya kondisi merupakan kritik yang baik sekali terutama dalam peningkatan layanan kepada konsumen. Masyarakat harus didik terus-menerus terkait dengan bagaimana harus berekonomi dan bertransaksi secara syariah untuk menanamkan pemahaman bahwa syariah sangatlah berbeda dengan konvensional. Sembari, layanan yang sempurna harus terus ditingkatkan untuk menggaet kepercayaan masyarakat yang memang sudah nyaman untuk berekonomi secara syariah.

Satu Tanggapan

  1. fakta menunjukkan masyarakat konsumen perbankan masih memlih bank bukan karena “label” yang digunakan. tapi sejauh mana sebuah lembaga perbankan mampu memberikan profit bagi mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: